ADAT BERTINDAK & BERTUTUR KATA DALAM BUDAYA GAYO

Kategori : Budaya Jumat, 06 September 2019

Takengon (acehengahkab.go.id)-Menurut Dr. Joni MN, M.Pd.B.I ada beberapa fenomena yang di identifikasi pada era jaman sekarang ini yang erat kaitannya dengan sistem adat Gayo yang mulai tertinggal seperti Minimnya sosok yang ditauladani, minimnya kajian indegenousitas dalam proses pendidikan (Formal, Informal, dan Nonformal), Dangkalnya kajian tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kajian Etika, Kajian saat ini lebih didominasi oleh sentuhan Estetika (life-style) dan Kepopuleritasan, Meningkatnya Nafsu Lawamah, hal ini pernah di ungkapkan dalam forum diskusi yang bertemakan “Bersinergi Melawan Hoak Demi Damai Ibu Pertiwi” pada 24 Agustus 2019 silam.

dalam penjelasanya harus ada tindakan dan bertutur kata dalam sistem dasar adat gayo yakni Ku Atas Mu-Pucuk Bulet – Ku Tuyuh Mu-Jantan Tegep artinya ke atas berpucuk bulat-ke bawah tertancap kuat dalam kajian alam, tatanan sosial, kemanusiaan semuanya berkaitan dengan agama. Istilah dalam konsep adat Gayo berupa edet ken peger ni agama-edet bersipet ujut okum bersipet kalam yang artinya adat sebagai pagarnya agama dan adat bersipat wujut okum bersipat tampak berupa aturan atau tata cara kehidupan, adat juga berfungsi sebagai anjuran, arahan, aturan, petunjuk, dan nasehat.

Adat Gayo berwujud AGRAFHA (PERI MESTIKEM) yang berarti tindak Tutur memiliki makna luas dan tersirat dibalik tuturan yang dikomunikasika, kemudian Simbol (MOTIF KERAWANG) yang berarti ragam hias dan corak yang memiliki makna tersirat di balik filosofi wujud bentuk atas kehendak hati, perasaan dan pemikiran yang diwujudkan dengan perwakilan benda-benda alam.

Dalam konsep Peri Mestikem dalam berindak tutur ada istilah  mutertib yang berarti tertib dalam penerapannya taat, terartur atau rapi dan saling menghargai, dan mukemel yang berarti punya rasa malu terhadap sumang yang berarti di larang, jis-jengkat yang berarti tidak sopan, kemali yang berarti pantangan. Kedua remalan bertungket-peri berabun, remalan bertingket masuk dalam katagori prilaku atau tinadakan yang harus di lembagakan ke dalam diri.

Untuk mencegah permasalahan yang telah di identifikasi ada peran dan pencegahan dengan unsur yang memiliki sipat opat mukawal artinya empat dikawal dan pitu mudenie atau tujuh di dunia . Adapun opat mukawal yakni musuket sipet (yang menekar dan mengukur), mu perlu sunet (yang memiliki pengetahuan tentang wajib dan sunnah), musidik sesat (yangn memiliki pengetahuan tentang mengindentifikas mengkaji dan menganalisa dan keramat mupakat (memiliki konsep-konsep yang menyatukan kerja sama dan kemufakatan.

Pitu mudenie yang mengkaji tentang Ayat (Agama), Hadist (syariat Islam), Ijmak (DPR dan MPR), Qies (Pendidikan), Atur (Mahkamah Agung), Resam (Komunikasi dan Informasi), Inget (Aparat Kepolisian dan TNI). Dari segi kewajaran ada di namakan mutape ikot yang terdiri dari muresie dan mutennaso yang berarti memiliki rahasi dan ada yang di simpan, hal ini bermakna tidak mengumbar-umbar rahasia atau aib baik ku diri-kin diri (pribadi), ku kite-kin kite (komunal), ku pakea-kin pakea (publik), ku jema dele-kin jema dele (pubik).