Latif Rusdi : Kalau Ingin Desa Maju, Inovasi Harus Dipacu

Kategori : Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kamis, 11 Juli 2019

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

 

Pengembangan inovasi di perdesaan merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan dana desa sehingga benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa/kampung. Program Pengembangan Inovasi Desa (PPID) merupakan satu amanah dari Undang Undang Nomor 6 tentang Desa ialah adanya fasilitas untuk menciptakan desadesa di Indonesia yang demokratis, mandiri, dan sejahtera. Salah satunya diwujudkan Kementerian Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Program Inovasi Desa.
Program Inovasi Desa merupakan program pendampingan yang dilakukan untuk mendorong pemanfaatan dana desa lebih berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Program Inovasi Desa baru berjalan selama dua tahun ini. Lewat program yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyrakat Desa (PPMD) itu telah menghasilkan sejumlah inovasi dari desa-desa di Indonesia. Program Inovasi Desa dioptimalkan melalui dana desa yang telah disalurkan ke 74.957 desa di seluruh Indonesia sejak 2015 yang lalu.
Namun pelaksanaan program ini belum sepenuhnya berhasil seperti yang diharapkan, inovasi-inovasi yang diharapkan mampu mendukung optimalisasi pemanfatan dana desa belum muncul secara signifikan. Hal tersebut diakui oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Latif Rusdi, MM ketika menutup acara Rapat Koordinasi Tim Inovasi Kabupaten Program Pengelolaan Inovasi Desa di Takengon, Rabu (10/7/2019) kemarin.
Latif mengakui bahwa pemanfaatan dana desa di kabupaten Aceh Tengah selama ini masih terpaku pada paradigm lama yaitu berorientasi pada pembangunan fisik semata, padahal peruntukan dana desa harus mampu mencover minimal tiga aspek yaitu peningkatan sumberdaya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan peningkatan infrastruktur prioritas.
“Yang kita lihat selama ini, dana desa hanya dimanfaatkan untuk pembuatan gorong-gorong, parit drainase dan jalan rabat beton, padahal diluncurkannya dana desa ini oleh pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan sumberdaya manusia dan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta mengoptimalkan potensi sumberdaya yang ada di desa” ungkap Latif.
Untuk dapat menggali dan mengoptimalkan potensi sumberdaya di desa, menurut Latif harus ada terobosan-terobosan baru yang bersifat inovatif dengan memanfaatkan dana desa sebagai stimulant.
“Kalau ingin desa kita maju dan masyarakat sejahtera, maka tidak ada kata lain, inovasi harus dipacu di semua desa atau kampung, tanpa terobosan inovasi, kita akan tetap seperti ini selamanya, meskipun sudah dikucurkan dana desa yang jumlahnya milyaran” lanjutnya.
Untuk itu Kepala BPMK ini berpesan kepada para pendamping desa dan Tim Pengelolaan Inovasi Desa (TPID) untuk mampu mendorong lahirnya inovasi desa yang dapat dilaksanakan di desa dengan dukungan dana desa. Salah satu wahana untuk memunculkan inovasi di perdesaan adalah melalui penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa yang rencananya akan digelar pada bulan Julia tau paling lambat awal bulan Agustus 2019 ini.
“Bursa Inovasi Desa mestinya bukan sekedar acara seremonial belaka, tapi harus mampu melahirkan inovasi-inovasi baru yang bisa diimplemnetasikan di tingkat desa untuk mendukung optimalisasi pemanfaatan dana desa, ini menjadi tugas dan tanggung jawab para pendamping desa dan TPID untuk berperan aktif mensupport kami dalam menyuksekan program ini” tandas Latif.
Seperti diberikan sebelumnya, Rapat Koordinasi Tim Inovasi Kabupaten tahun 2019 ini dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 7 sampai 10 Juli 2019 di Hotel Linge Land, Takengon. Kegiatan yang merupakan salah satu upaya untuk memaksimalkan capaian program pengelolaan inovasi desa yang diikuti oleh 53 peserta dari Tim Inovasi Kabupaten, TPID Kecamatan dan Pendamping Desa ini, telah dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah tiga hari yang lalu dan berakhir pada hari Rabu (10/7/2019) kemarin.

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84