Fenomena Alam Hujan Es Kembali Terjadi di Jagong Jeget

Kategori : Iklim dan Cuaca Senin, 08 Juli 2019

Liputan : Fathan Muhammad Taiufiq

Hujan es meninggalkan butiran-butiran es sebesar kelereng 

Jagong Jeget (acehtengahkab.go.id) - Fenomena alam berupa hujan es kembali terjadi di wilayah kecamatan Jagong Jeget Aceh Tengah, Minggu (7/7/2019) kemarin. Beberasa kampung di kecamatan tersebut seperti Jeget Ayu, Paya Tungel, Paya Dedep, Bukit Kemuning dan beberapa kampung disekitarnya, merasakan dampak langsung dampak langsung dari kejadian langka tersebut. 

Kejadian itu bukanlah yang pertama terjadi di daerah dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl ini, pada tahun 2015 yang lalu, daerah ini juga pernah mengalami kejadian serupa. Namun kejadian hari minggu kemarin terhitung lebih parah dari kejadian 4 tahun yang lalu, selain cakupan wilayahnya lebih luas dan buturan es yang lebih besar, hujan es yang terjadi kemarin juga telah berdampak kerusakan pada puluhan hektare lahan pertanian di wilayah ini serta merusak puluhan rumah warga, terutama pada bagian atap yang terbuat dari seng.
Menurut teori klimatologi, hujan es sebenarnya merupaka fenomena lama biasa yang bisa terjadi kapan dan dimana saja. Hujan es terjadi akibat proses presipitasi hujan yang terjadi tidak sempurna akibat perbedaan suhu permukaan dengan suhu atmosfer yang cukup signifikan. Pada proses normal, presipitasi terjadi ketika gumpalan awan yang berisi uap air yang sudah membeku berubah menjadi titik-titik air ketika memasuki atmosfer. Namun dalam peristiwa hujan es, karena suhu atmosfer yang sangat rendah, menyebabkan presipitasi tidak terjadi secara sempurna, akibatnya butiran-butiran uap air beku turun dalam bentuk gumpalan atau butiran-butiran es dengan ukuran bervariasi. Gesekan dengan udara dingin di atmorfer, tidah mampu memecah butiran-butiran es tersebut menjadi air hujan, sehingga ketika sampai ke permukaan bumi masih berbentuk butiran-butiran es, fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai hujan es.

Merusak tanaman dan rumah warga
Menurut salah seorang warga, Suprihono yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, hujan es itu terjadi secara tiba-tiba sekitar jam 14.15 waktu setempat. Suprihono yang juga seorang penyuluh pertanian itu menuturkan nahwa selama beberapa hari terakhir di daerah tempat tinggalnya tidak pernah turun hujan, tapi tiba-tiba langit terlihat mendung dan beberapa saat kemudian turun hujan es tersebut.
“Sudah beberapa hari ini disini tidak pernah turun hujan, kemarin tiba-tiba langit terlihat mendung, saya fikir ini gejala hujan biasa, ternyata yang turun bukan air tapi butiran-butiran es yang ukurannya lumayan besar” ungkap Supri.
Lebih lanjut Supri menjelaskan, meski kejadian tersebut hanya sebentar tapi cukup banyak bitiran es yang menutupi beberapa kampung di sekitar tempat tinggalnya di kampung Paya Tungel.

Suprihono menunjukkan butiran es di sekitar rumahnya

“Saya sudah melakukan pengecekan ke beberapa tempat, butiran es yang sangat banyak itu menutupi puluhan hektar lahan pertanian, dan rata-rata tanaman yang terdampak mengalami kerusakan parah, saya juga melihat butiran-butiran es sebesar kelereng merusak atap rumah warga yang terbuat dari seng” lanjutnya

Dampak hujan es pada lahan pertanian

Butiran-butiran es itu juga sangat keras, sampai bisa menembus seng, bahkan menurut pengamatanian Supri, sampai dengan hari ini, sebagian butiran es yang menutupi lahan pertanian, belum mencair meski sudah terkena terik matahari. Beberapa jenis tanaman seperti cabe, tomat, bawang merah, bawang putih langsung menampakkan kerusakan pasca terjadinya hujan es tersebut, begitu juga tanaman tahunan seperti kopi juga mengalami kerusakan terutama pada bagian daun.

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84