Puasa Ramadhan, Momentum Tepat Mencegah Hoax

Kategori : Informasi dan Komunikasi Publik Selasa, 07 Mei 2019

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

 

Suasana shlat tarawih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Puasa pada bulan Ramadhan merupakan kewajiban sekaligus salah satu dari rukun Islam, perintah menjalankan ibadah puasa bagi Muslim yang sudah baligh, sehat jasmani dan rohani dan tidak dalam perjalanan (syafar), tercantum dalam Alqur’an, surah Al Baqarah ayat 183 -185. Secara fiqah, puasa dimaknai sebagai menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami isteri sejak terbitnya fajar (masuk waktu Subuh) sampai dengan tenggelamnya matahari (Maghrib).
Namun berbeda dengan ibadah wajib lainya, yang secara fisik dapat dilihat oleh orang lain, ibadah puasa merupakan ibadah syir (rahasia, tersembunyi, tersamar), karena yang mengetahui orang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang bersangkutan dan Allah SWT tentunya. Sering terjadi seorang suami yang pada malam harinya ikut bersahur bersama keluarga, namun di tempat kerja, sengaja membatalkan puasanya, dan ketika kembali ke rumah, pura-pura berpuasa didepan isteri dan anak-anaknya .
Type seperti itu biasanya menganggap ibadah puasa merupakan beban berat dan sangat ‘menyiksa’, karena minimnya kemampuan memahani makna besar dibalik perintah puasa ini. Dan itu bukan hal yang mengherankan, karena banyak sekali orang yang mengaku Islam, tapi tidak pernah menjalankan syariat, istilah populernya ‘Islam KTP’.
Ada lagi satu ‘model’ berpuasa, yaitu dengan menjalankan ‘aturan main’ yaitu menahan makan, minum dan huungan bilogis, sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, tapi perbuatan dosa dan larangan agama juga tetap dilakukan. Model seperti inilah yang ditengarai oleh Rasulullah SAW melalui hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Hurairah,
“Banyak yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus”
Secara syar’i, dengan cara menjalankan puasa seperti itu dianggap telah menggugurkan kewajiban, karena syarat berpuasa telah dilalui. Namun karena puasa adalah ibadah khusus yang hanya Allah yang tau, puasa semacam itu tentu saja akan kehilangan esensi dan substansinya. Karena dengan puasa ‘sekedar cukup syarat’ seperti itu, tidak akan meninggalkan kesan atau bekas apapun bagi orang tersebut.
Esensi puasa untuk dapat merasakan kelaparan dan kehausan yang sering dialami oleh saudara-saudara sesama Muslim yang kurang beruntung, tentu tidak dapat dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa asal-asalan tersebut. Sementara subtansi puasa untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama, sama sekali tidak akan terekam dan teraplikasikan oleh orang-orang dengan model puasa semacam itu. Artinya puasa yang mereka lakukan, tidak akan merubah sikap dan perilaku kearah yang lebih baik, puasa seperti itu hanya menggugurkan kewajiban, tapi tidak ada pahalanya.


Hilangnya pahala puasa
Hala yang membatalkan puasa, sudah sangat jelas karena pasti sudah sering kita dengar dari para penceramah maupun dari menyimak kitab atau buku pelajaran agama. Selain menahan diri dari makan minum dan hubungan suami isteri, puasa akan sah jika rukun islam lainnya, khususnya sholat juga dijalankan, tidak sah puasa seseorang yang meninggalkan sholat. Tapi puasa hanya akan jadi ibadah sia-sia yang tidak bermakna apapun, jika upaya untuk menjaga pahala puasa tidak dilakukan.
Menurut jumhur ulama, setidaknya ada 5 hal yang akan menghilangkan pahala puasa Ramadhan, yaitu :
Pertama, berdusta, berbohong atau menebar kebohongan.
Yang masuk dalam kategori ini adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar, menyebarkan berita atau informasi tidak berdasar fakta (menyebarkan informasi Hoax), melakukan kecurangan dan melakukan pembohongan publik dengan janji-janji palsu dan memutar balikkan fakta. Dusta atau kebohongan dapat dilakukan dengan lisan dan sekarang lebih tren melalui berbagai media, baik median mainstream maupun media sosial. Mereka yang berpuasa, tapi tetap berbohong atau berdusta dengan berbagai cara, tidak akan mendapatkan apapun dari puasanya.
Semoga momentum puasa Ramadhan kali ini mampu menuadarkan mereka yang masih suka menebar kebohongan, membohongi public dan melakukan praktek kecurangan.
Kedua, Ghibah atau membicarakan aib orang lain.
Banyaknya waktu luang pada bulan Ramadhan, karena jam kerja yang dilonggarkan, membuat orang sering kumpul-kumpul dengan komunitas mereka, dan ketika berkumpul itulah tanpa disadari akan muncul pembicaraan yang mengarah kepada ghibah atau gossip yang menceritakan keburukan orang lain. Begitu entengnya orang untuk menggosip, bahkan diselingi gelak tawa mencemooh, padahal ghibah merupakan larangan agama dan menjadi salah satu penggugur pahala puasa. Puasa tidak akan berguna jika, lisan masih terbiasa untuk bergunjing dengan ghibah.
Ketiga, menebar fitnah
Beberapa bulan terakhir ini, masyarakat disibukkan dengan agenda politik bertajuk pesta demokrasi pemilihan umum. Ajang pemilihan calon presiden, calon senator dan calon legislatif ini, tanpa disadari telah berubah menjadi ajang adu domba dan penyebaran fitnah. Rivalitas sesame kandidat untuk menggapai kursi kekuasaan, telah melahirkan teri menghlalakan segala cara, termasuk memfitnah lawan politik supaya sang lawan ‘terjatuh’.
Tapi bukan hanya pada ajan pemilu saja fitnah merajalela, dalam keseharian di tepat kerja, di tengah masyarakat, fitnah juga sering digunakan orang untuk mencapai tujuan tertentu. Padahal fitnah merpakan dosa besar yang bahkan dalam Alqur’an disebutkan bahwa fitnah lebih keji dari pembunuhan. Puasa juga akan kehilangan esensi jika orang yang berpuasa masih juga melkukan praktek adu domba dan menebar fitnah.
Keempat, memandang dengan syahwat.
Menunggu waktu berbuka, terkadang terasa panjang dan melelahkan, apalagi dalam cuaca terik seperti yang terjadi saat ini. Memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca Alqur’an, belajar agama, melakukan aktifitas ringan yang bermanfaat, tentu akan lebih memberi makna dari ibadah puasa. Tapi godaan syetan, terkadang lebih cepat merasuk pada raga yang sedang lapar dan dahaga. Godaan syahwat dari penglihatan, merupakan salah satu hal yang akan memusnahkan pahala puasa. Bertemu denga lawan jenis dengan penampilan ‘menantang’ di fasilitas umum seperti halte, bus, kereta api, pasar, mall dan sebagainya, tanpa sadar sering melahirkan fantasi yang menyesatkan. Begitu juga fasilitas IT seperti HP dan Laptop, bisa jadi wahana iseng untuk memuka situs-situs pengumbar syahwat, tentu hal ini sangat dilarang, apalagi saat menjalankan ibadah puasa.
Kelima, sumpah palsu atau sumpah yang berdasar atas kebohongan.
Pada zaman yang serba teralik-balik seperti yang kita rasakan pada saat ini, mengucapkan sumpah palsu seakan sudah menjadi kalziman. Hanya demi keuntungan pribadi atau kelompok, keselamatn diri, dan tujuan tertentu, orang bisa dengan meudah mengucap sumpah palsu, tidak perduli disumpah dengan kitab suci atau dengan nama Allah. Akibat sumpah palsu ini, bisa saja yang benar menjadi salah dan akhirnya kalah, dan yang salah menjadi benar dan kemudian menang. Tentu saja sumpah palsu ini merukana perilaku berbahaya bagi kehidupan dalam masyarakat, itulah sebabnya Islam melarang keras sumpah palsu ini. Terlebih di bulan yang mengajarkan kejujuran ini, sumpah palsu selain merupakan dosa besar, juga akan menghanguskan semua pahala puasa.


Ramadhan, momentum mencegah dan menagkal Hoax
Dari sifatnya yang rahasia, ibadah puasa merupakan ibadah yang mengutamakan kejujuran, puasa akan menguji kejujuran seseorang baik ketika dia sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kita mungkin bisa saja membohongi orang lain dengan mengatakan kita berpuasa dengan pura-pura lemas dengan bibir yang di kering-keringkan, tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri dan Allah. Serapi apapun kebohongan disembunyikan, tetap saja akan berdampak psikologis berupa kegelisahan dan rasa bersalah, meski ini sering tidak disadari.
Ketidak jujuran pada akhirnya akan melahirkan kebohongan, itu sudah menjadi hukum alam, dan setiap kebohongan akan selalu berusaha ditutupi dengan kebohongan lainnya. Akumulasi dari kebohongan-kebohongan itulah yang pada akhirnya melahirkan kebohongan sistematis atau yang sekarang populer disebut hoax. Jika hanya dilakukan oleh perorakan dengan skope terbatas, mungkin dampaknya tidak akan terlalu besar. Tapi jika informasi hoax ini diorganisir dan disebarkan secara massif dan sestematis melalui berbagai media, tentu dampkanya akan membuat keresahan ditengah mayarakat serta menimbulkan ketidak percayaan dan kecurigaan di kalangan masyarakat.
Saking massifnya sebuah kebohongan yang dikemas dalam berbagai berita dan informasi hoax, masyarakat jadi tidak tau mana informasi yang benar mana yang bohong. Namun pada akhirnya ketidak percayaan publik pada media (khususnya media mainstream) menjadi sebuah keniscayaan. “Frustasi kepercayaan” inilah yang kemudian menambah suburnya media sosial, namun lagi-lagi media sosialpun sekarang juga sudah menjadi bagian dari media penyebaran hoax. Begitu dahsyatnya dampak dari kebohongan, bahkan stabilitas suatu Negara pun bisa terancam, itulah sebabnya agama Islam sangat keras melarang kebohongan, dan media untuk ‘menyembuhkan’ diri dari kebohongan ini adalah melalui ibadah puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, adalah momentum yang sangat tepat untuk mencegah dan menangkal penyebaran informasi hoax. Orang-orang yang benar-benar menjalankan ibadah puasa, akan menjaga dirinya dari perkataan maupun perbuatan bohong. Orang yang memaknai puasa dengan makna sebenarnya juga tidak akan terpengaruh dengan informasi hoax, dengan demikian tidak punya keinginan untuk menyebarkan informasi bohong tersbut.
Selain melalui pemahaman individu, upaya mencegah dan menangkal hoax pada bulan Ramadhan, juga dapat dilakukan oleh para penceramah yang menyampaikan tausiahnya pada rangkaian shalat tarawih yang digelar di semua masjid dan musholla di seluruh penjuru negeri ini. Artinya ketika semua ummat Muslim yang jumlahnya lebih dari 80 persen di negeri ini benar-benar memahami makna puasa, maka informasi hoax yang beredar di berbagai media akan dapat diredam secara signifikan.
Dan ketika ibadah puasa dimaknai dan daipahami sebagaimana mestinya (sesuai tuntunan agama), maka Ramadhan akan jadi momentum efektif mencegah dan menangkal hoax. dengan kata lain, Ramadhan akan menghadirkan suasana tenteram dan damai tanpa kebohongan. Semoga.

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84