Dukung Program IP 300, Isteri Plt Gubernur Rela Berlumpur

Kategori : Pertanian Sabtu, 04 Mei 2019

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Isteri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati mencoba rice transpalnter

Semangat pemerintah provinsi Aceh untuk meningkatkan produktivitas padi terus menggeliat, keinginan untuk menjadi salah satu lumbung pangan nasional mulai menggebu. Ini dibuktikan dengan peluncuran program cluster IP 300 beberapa waktu yang lalu, dimana indeks pertanaman digenjot dari 1,6 menjadi 3,0. Dengan program peningkatan IP ini, diharapkan produksi padi di Aceh akan meningkat 2 kali lipat dari sebelumnya, begitu juga dengan program intesifikasi pajele diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dari rata-rata 6 ton per hektar menjadi 9 – 10 ton per hektar.
Program IP 300 yang dilanunching pada tanggal 23 April 2019 yang lalu oleh Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT ini, ternyata tidak hanya mendapat dukungan stake holders terkait seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Balai Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh dan Kodam Iskandar Muda saja, Pilot project seluas 500 hektare di kawasan kecamatan Indrapuri, Aceh Besar ini juga mendapata dukungan dari Tim Penggerak PKK Aceh yang juga merupakan mitra pemerintah provinsi Aceh dalam membangun daerah.
Seperti yang terlihat pada hari Kamis (3/5/2019) yang lalu, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dr. Dyah Erti Idawati, MT ini tidak mau ketinggalan mendukung program ini. Tidak tanggung-tanggung, isteri Plt Gubernur Aceh langsung terjun ‘bermain lumpur’ di petak-petak sawah lokasi cluster IP 300. Didampingi Kepala BPTP Aceh, Ir. Massagus Ferizal, M Si dan Sekretaris Distanbun Aceh, Cut Huzaimah, MP serta dibantu operator dari UPT Mekanisasi Pertanian (Mektan), Dyah mencoba sendiri mengoperasikan Rice Transplanter, alat penanam padi otomatis iu.
Tanpa mempedulikan pakaian yang dikenakannya belepotan lumpur, Dyah terlihat sangat menikmati ‘permainan’ itu. Akhirnya dia tau, dengan memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian, ternyata menanam padi menjadi sangat mudah, cepat dan mengasyikkan.
“Dulu, saya taunya menanam padi itu hanya bisa dilakukan secara manual, butuh tenaga banyak dan melelahkan, tapi dengan alat ini ternyata menanam padi menjadi mudah dan menyenangkan” ungkap Dyah.

Dua 'Kartini Pertanian' bermain lumpur di sawah

Dengan pola konvesional, menananam padi seluas satu hektar butuh waktu beberapa hari dengan melibatkan puluhan tenaga kerja, tapi dengan rice transplanter ini, cuma butuh waktu sekitar 4 jam saja. Ini yang membuat Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ini terkagum-kagum dengan kecanggihan alat ini. Cara mengoperasikan alat ini pun cukup mudah, cukup meletakkan tray bibit diatas mesin kemudian menjalankannya, maka bibit-bibit padi itupun akan tertanam berbanjar lurus dengan sendirinya.
Kehadiran isteri Plt Guernur Aceh ini bukan semata-mata karena keingin tahuannya bagaimana mengoperasikan alat tanam modern ini, tapi sekaligus memberikan semangat dan motivasi kepada para petani agar lebih bersemangat dalam mensukseskan program IP 300 ini, apalagi para petani peserta cluster IP 300 ini juga sudah diikut sertakan dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang menjamin petani tidak akan menderita kerugian meskipun hasil panen mereka gagal.
Meski harus belepotan lumpur di tengah terik matahari, perempuan cantik ini terlihat tetap bersemangat, wajahnya tetap memancarkan keceriaan,
“Hari ini saya mendapatkan pengalaman baru yang sangat menyenangkan, teknologi pertanian membuat bertani menjadi mudah dan menyenangkan, kalo bapak (Plt Gubernur) saja tidak segan turun ke sawah, ibunya pun nggak boleh ketinggalan” canda Dyah sambil tersenyum,
Usai mencoba rice transplanter, Dyah juga melakukan penanaman Refugia di pematang sawah di lokasi cluster. Penenaman berbagai jenis bunga di lokasi persawahan merupakan salah satu cara alami untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman padi. Refugia diyakini akan membuat beberapa jenis hama dan penyakit tanaman akan ‘menjauh’ dari lahan persawahan. Selain itu, kahadiran refugia akan membuat lahan sawah menjadi indah dan cantik, sehingga menarik untuk dukunjungi.


Mendapat dukungan penuh BPTP dan UPT Mektan
Sementara itu Kepala BPTP Aceh, M Ferizal yang turut mendampingi ibu gubernur mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendampingan teknologi untuk mensukseskan program ini, sehingga peluang kegagalan bisa diminimalisir.
“kami akan terus melakukan pendampingan untuk mengawal program ini, apalagi kami juga mendapatkan dukungan dari Dinas Pengelolaan Air, sehingga ketrsediaan air Insya Allah akan terjaga sepanjang tahun dan kemungkinan gagal panen bisa kita minimalisir” ungkap Ferizal.

Sebagian lahan kluster IP 300 seluas 500 Ha di Indrapuri, Aceh Besar

Lebih lanjut Ferizal mengungkapkan bahwa pendampingan yang dilakukan pihaknya tidak terbatas pada saat penanaman saja, tapi juga sampai ke tahapan pemeliharaaan, perawatan, engendalian hama dan penyakit tanaman bahkan sampai ke tahap panen dan pasca panen.
Peluncuran program IP 300 yang melibatkan berbagai alat dan mesin pertanian dengan teknologi modern ini, juga tidak terlepas dari peran aktif UPT mektan yang menyediakan semua kebutuhan alat mesin pertanian untuk mendukung program ini. Seperti diungkapkan oleh Kepala UPT Mektan, drh Ahdar, MP yang sejak taham perencanaan sampai dengan penanaman perdana sudah menurunkan seluruh personel teknisnya untuk terlibat aktif dalam program ini.
“Mulai dari tahap perencanaan, pengolahan lahan sampai penanaman perdana, kami all out menurunkan semua personel untuk mendukung program ini, dan ini akan terus kami lakukan sampai program ini berhasil” ungkap Ahdar.

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84