Aceh Launching Cluster IP 300

Kategori : Pertanian Rabu, 24 April 2019

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Tanam perdana cluster IP 300 di Indrapuri, Aceh Besar

Aceh Besar (acehtengahkab.go.id) - Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh (Distanbun) Aceh terus berupaya untuk mewujudkan provinsi Aceh sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan berbagai cara. Dengan luas lahan sawah produktif sekitar 293.067 hektar, sebenarnya Aceh sudah surplus beras. Berdasarkan data statistik pertanian tahun 2017, produksi padi di provinsi di ujung barat Indonesia ini mencapai 2,5 juta ton, sementara dengan populasi penduduk saat ini sebesar 5.208.433 jiwa, tingkat konsumsinya sekitar 1,2 juta ton, artinya Untuk komoditi padi ini Aceh sudah surplus 1,3 juta ton.
Meski sudah surplut, namun upaya peningkatan produksi padi/beras terus digencarkan oleh Distanbun Aceh. Salah satu upaya peningkatan produksi padi tersebut adalah melalu pencanangan Program IP 300, melalui program ini Distanbun Aceh berupaya meningkatkan indeks pertanaman dari rata0rata 1,6 kali per tahun menjadi 3 kali setahun.
Kepala Dinas pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MM menjelaskan program IP 300 dilaksanakan dengan pengaturan jadwal tanam IP 100 sampai IP 300. IP 100 atau indeks pertanaman pertama dilakukan pada periode tanam 15 Desember 2018 sampai dengan 10 April 2019, IP 200 dilaksanakan pada 15 April 2019 sampai dengan 10 Agustus 2019 sampai dengan 10 Desember 2019. Hanan optimis program ini dapat terlaksana karena mendapata dukungan penuh dari Dinas Sumberdaya Air dan UPT Mekanisasi Pertanian.
“Dengan dukungan dari Dinas Sumberdaya Air, Insya Allah ketersediaan air sepanjang tahun tidak akan jadi kendala, sementara dukungan mekanisasi pertanian akan membantu percepatan proses olah tanah maupun pertananam, jadi kami optimis program ini dapat berjalan sesuai rencana” ungkap Hanan.
Lebih lanjut Hanan berharap, melalui program IP 300 ini, produktivitas padi di Aceh akan ikut terdongkrak dari rata-rata 6 ton per hektar menjadi 9 – 10 ton per hektar.


Dilaunching oleh Plt. Gubernur Aceh
Sesuai rencana, launching kegiatan yang merupakan terobosan baru Distanbun Aceh itu ditandai dengan penanaman perdana Cluster padi IP-300 di Desa Lam Ilie Mesjid, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar , Selasa (23/4/2019) kemarin. Tanam perdana cluster IP 300 dengan luas kurang lebih 500 hektar ini dihadiri langsung oleh Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT dan Staf Ahli Menteri Pertanian, Wali Nanggroe, Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, Panglima Kodam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, seluruh jajaran OPD lingkup pemerintah provinsi Aceh, Bupati Aceh Besar dan jajaran pemerintah kabupaten Aceh Besar.

Plt Gubernur Aceh, Wali Nanggroe, Staf Ahli Mentan melakukan tanam perdana cluster IP 300

Ketika memberikan sambutan dalam pencanangan program IP 300 kemarin, Plt Gubenur Aceh mengungkapkan bahwa Aceh merupakan salah satu daerah yang diharapkan mampu menjadi lumbung pangan nasional. Meski saat ini sudah surplus, namun upaya peningkatan produksi harus tetap dilakukan
“Berdasarkan data BPS, Aceh memiliki luas lahan pertanian sawah sekitar 293 ribu hektar, dan mampu memproduksi beras berkisar 2,5 juta ton per tahun. Dengan jumlah penduduk sebanyak 5,2 juta jiwa, konsumsi beras Aceh berkisar 1,2 juta ton. Artinya, setiap tahun Aceh surplus gabah sebesar 1,3 juta ton. Surplus ini kami kontribusikan untuk memenuhi ketersediaan pangan di wilayah lain di Indonesia” ungkap Nova.
Keberhasilan surplus ini, sambung Nova, merupakan prestasi yang patut diapresiasi. Namun Nova mengingatkan agar para pemangku kebijakan terkait tidak berpuas diri, karena jika tidak segera di antisipasi, maka angka konversi lahan di Aceh akan berimbas pada menurunnya produksi gabah Aceh di masa mendatang.
“Tingginya tingkat konversi lahan sawah menjadi kawasan permukiman, terus terang membuat kami khawatir produksi gabah Aceh akan menurun pada tahun-tahun mendatang. Apalagi data Kementerian Agraria/Badan Pertanahan Nasional menyebutkan, luas sawah di Aceh mengalami penurunan cukup signifikan dalam dua tahun terakhir akibat knversi lahan, oleh karena itu, kondisi ini harus segera diantisipasi,” ungkap Nova.
Oleh karena itu, penurunan luas lahan sawah di Aceh harus diantisipasi sejak dini, agar status Aceh sebagai lumbung pangan nasional tetap dapat dipertahankan. Nova mengungkapkan, tingginya tingkat alih fungsi lahan mengharuskan Pemerintah Aceh untuk berinovasi untuk memformulasikan kebijakan baru untuk mempertahankan luas areal sawah yang ada.
“Salah satu pemberdayaan yang kita lakukan adalah melalui pemanfaatan alat mesin pertanian yang didukung dengan industri berbasis cyber atau 4.0. Program Cluster IP 300 ini adalah upaya nyata dari pemerintah Aceh untuk terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu lumbung pangan nasional, melalui peningkatan indeks pertanaman ini, kami yakin akan terjadi kenaikan produksi yang cukup signifikan” lanjut Nova.
Program cluster Padi IP 300 yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di wilayah kabupaten Aceh Besar ini, merupakan kegiatan perdana, yang dikelola oleh kelembagaan ekonomi petani dengan dukungan teknologi budidaya dan sarana produksi, mekanisasi dan industri pengolahan sebagai upaya menumbuhkan minat petani milenial, yang pendanaannya didukung dari sumber dana APBA dan APBN dengan melibatkan 1.876 KK petani. Program IP 300 ini juga akan dilanjutkan di wilayah lainnya di Aceh yang punya potensi lahan sawah yang memungkinkan untuk penerapan IP 3. Untuk memberikan jaminan atas resiko kegagalan, Distanbun Aceh juga mengikutsertakan seluruh petani peseta cluster dlam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), dimana petani yang gagal panen akan memperoleh klaim asuransi sampai dengan Rp 6 juta rupiah.


Harapkan dukungan Kementan
Dalam kesempatan tersebut, Nova juga berharap agar Kementerian Pertanian mendukung program percepatan swa sembada pangan, termasuk program pencetakan lahan sawah baru di Aceh agar ekstensifikasi pertanian sawah berjalan lancar. Nova mengungkapkan, selain komoditi tanaman pangan, selama ini Pemerintah Aceh juga fokus membangun sub sektor perkebunan.
Salah satu langkah yang telah dilakukan saat ini adalah mendukung upaya petani untuk melakukan peremajaan lahan Kelapa Sawit yang sudah tua, perluasan areal tanaman Kopi Arabica Gayo serta pengembangan Pala.
Nova mengungkapkan, sepanjang tahun ini, petani Aceh berhasil melakukan replanting di atas lahan seluas 3.009 hektar atau setara dengan Rp75 milyar.
“Pada tahun ini kami menargetkan program replanting ini dapat dilakukan di atas lahan seluas 15.259 hektar. Di sektor peternakan, kami sedang giat-giatnya menjalankan program sapi indukan wajib bunting (SIWAB) Dengan program itu, spesies sapi Aceh akan dapat dilestarikan, dan konsumsi masyarakat terhadap daging sapi dapat dipenuhi,” pungkas Plt Gubernur Aceh.

Semua komponen terlibat dalam tanama perdana cluster IP 300

Sementara itu Staf Ahli Menteri Pertanian Deddi Nursamsi, yang hadir mewakili Menteri Pertanianr menjelaskan, bahwa ada tiga hal yang dapat mendongkrak hasil pertanian, yaitu Infrastruktur pertanian, inovasi teknologi pertanian dan berbagai upaya pemberdayaan petani dan seluruh stakeholder pertanian.
Melihat kesuburan tanah dan ketersediaan air yang memadai, Deddi mengajak masyarakat bersyukur dan mendukung pencanangan cluster IP300 di Aceh Besar.
“Menanam adalah bentuk rasa syukur masyarakat Aceh Besar atas ketersediaan air dan kesuburan tanah yang telah Allah berikan di daerah ini,” ungkap Deddi.

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84