Jagong Jeget, Potensial Untuk Pengembangan Komoditi Bawang Putih

Kategori : Pertanian Selasa, 02 April 2019

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

 

 

Hamparan tanaman bawang putih di kecamatan Jagong Jeget

Dataran Tinggi Gayo meliputi dua kabupaten yaitu Aceh Tengah dan Bener Meriah yang sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian diatas 1.000 meter diatas permukaan laut, sebenarnya merukan daerah yang cukup potensial untuk pengembangan komoditi bawang putih. Namun karena sebagian besar lahan pertanian di daerah ini sudah didominasi oleh tanaman kopi arabika, lahan yang tersedia untuk pengembangan komoditi bawang putih menjadi terbatas. Sementara itu pada lahan pertanian yang tidak ditanami kopi, petani lebih cenderung membudidayakan komoditi hortikultura lainnya seperti Cabe, Tomat, Kentang, Kol, Wortel dan Bawang Merah, karena komoditi-komoditi tersebut menurut para petani lebih mudah pemasarannya.
Menyikapi kondisi terkini yaitu minimnya pasokan bawang putih lokal di pasaran, para petani di beberapa daerah di Kabupaten Aceh Tengah mulai lagi membudidayakan komoditi yang juga menjadi bumbu ‘wajib’ di dapur ini. Seperti yang dilakukan oleh para petani di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah, meski hampir 90 persen lahan pertanian mereka sudah dipenuhi tanaman kopi yang menjadi komoditi utama andalan mereka, namun mereka masih bisa mensiasatinya dengan menanam bawang putih pada lahan-lahan yang selama ini belum digarap secara optimal.
Di kecamatan Jagong Jeget, memang masih ada lahan yang memang tidak ditanami kopi oleh pemiliknya, karena kondisi tanah yang kurang sesuai untuk pertanaman kopi, seperti pada lahan bekas rawa maupun pada lahan yang selama ini ini memang dikhususkan untuk budidaya palawija dan hortikultura. Di lahan tersebut, biasanya petani membudidayakan aneka jenis sayuran seperti kol, kentang, cabe, tomat dan bawang merah. Namun terjadinya fluktuasi harga yang cukup tajam pada beberapa komoditi hortikultura seperti cabe, kol dan kentang, membuat para petani mulai beralih kepada komoditi bawang putih yang harga pasarnya relatif lebih stabil. Peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para petani di daerah eks pemukiman transmigrasi ini untuk membudidayakan bawang putih.
Bagi para petani di lokasi eks pemukiman transmigarsi ini, sebenarnya membudidayakan bawang putih bukanlah hal baru bagi mereka. Sudah sejak mulai dibukanya lokasi transmigrasi ini pada tahun 1982, para petani sudah mulai membudidayakan ‘si putih’ ini. Namun pesona aroma kopi arabika yang menjadi primadona pertanian di dataran tinggi Gayo, membuat mereka mulai menanami lahan mereka dengan tanman kopi, sehingga budidaya bawang putih mulai ditinggalkan.


Mulai kembangkan lagi bawang putih
Namun seiring perkembangan situasi dimana kebutuhan bawang putih semakin meningkat, sementara ada kekahwatiran masyarakat untuk mengkonsumsi bawang putih impor, membuat mereka tergerak kembali untuk membudidayakan ‘si putih’ ini. Belakangan mulai banyak petani yang ‘menyulap’ lahan mereka menjadi areal pertanaman bawang putih pada lahan-lahan yang selama ini mereka Tanami berbagai jenis hortikultura. Bukan Cuma pada lahan kosong saja, meski lahan semakin terbatas, namun mereka tidak kekuarangan akal, lahan yang berada di sela-sela tanaman kopi muda, mereka manfaatkan untuk areal budidaya komoditi bawang putih ini. Setidaknya, sampai tanaman kopi berumur 5 tahun, lahan tersebut masih bisa mereka manfaatkan untuk budidaya bawang putih. Budidaya bawang putih juga tidak mengganggu tanaman kopi, karena bawang putih perakarannya sangat dangkal, sehingga tidak terjadi rebutan absorbs unsure hara pada lahan yang sama. Bahkan seperti terjadi ‘simbiosis mutualisma” diantara keduanya, karena sisa pupuk yang tidak terserap oleh tanaman bawang putih juga akan terserap oleh tanaman kopi dan membuat petumbuhan tanaman kopi lebih baik. Dan satu lagi keuntungan bagi tanaman kopi, aroma bawang putih yang khas, juga membuat hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman kopi akan menjauh, benar-benar kombinasi tumpang sari yang sangat menguntungkan petani.

Bawang putih yang dihasilkan petani di Jagong Jeget punya kualitas sangat baik

Menurut Paiman, seorang penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah itu, animo petani untuk kembali membudidayakan bawang putih di wilayah binaannya ini sudah mucul sejak tahun lalu. Kalau tahun 2017 lalu hanya beberapa hektar kebun kopi saja yang dimanfaatkan sebagai lahan tumpang sari bawang putih, tahun ini nyaris semua lahan tanaman kopi muda sudah dimanfaatkan petani untuk budidaya komoditi yang sering menjadi kontroversi ini.
“Alhamdulillah, budidaya bawang putih yang dilakukan beberapa petani pada tahun lalu berhasil dengan baik, dampaknya tahun ini semakin banyak petani yang mulai melirik budidaya bawang putih ini” ungkap Paiman yang juga Kepala BPP Jagong Jeget ini.
Lebih lanjut Paiman mengungkapkan, dia bersama rekan-reakn penyuluh lainnya terus berupaya memberi motiivasi kepada petani agar kembali membudidayakan bawang putih yang dulu pernah menjadi andalan perekoomian masyarakat di wilayah ini. Upya ini dia lakukan sebagai bentuk dukungan atas program swasembada bawang putih yang sudah dicanangkan oleh Kemneterian Pertanian.
“Sebagai penyuluh, kami adalah ujung tombak Kementerian Pertanian, sudah selayaknya kami mendukung penuh semua program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah termasuk upaya percepatan swasembada bawang putih ini, secara kebetulan wilayah bianaan kami memang potensial untuk pengembangan komoditi ini, jadi kami terus berupaya mendorong petani untuk kembali membudidayakan komoditi ini, karena menurrut pantauan kami, prospeknya kedepan cukup baik, apalagi masalah pemasaran hasil selama ini tidak ada kendala, karena meskipun kami jauh dari pusat kota, tapi infra struktur jalan sudah baik dan transportasi lancar” sambung Paiman. Penyuluh pertanian yang cukup lama mengabdi sebagai penyuluh kontrak ini juga menjelaskan, varietas bawang putih yang banyak dibudidayakan di wilayah ini adal vairietas Lumbu Ijo, menurutnya vaietas ini dipilih petani karena sudah beradaptasi dingan kondisi agroklimat setempat, selain itu varietas ini produktivitasnya juga cukup tinggi. Virietas lumbu ijo ini juga digemari oleh konsumen karena aromanya tajam, umbi dan siungnya besar.
Meski belum dibebani target oleh instansi terkait, namun Paiman dan kawan-kawan terus berusaha agar terus terjadi penambahan areal tanam bawang putih di wilayah bianaanya. Keberhasilan mengembangkan luas tanam dan peningkatan produksi bawang merah di wilayah ini, tentu akan sangat bermanfaat bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Dan Paiman optimis, karena etos kerja dan semangat para petani di wilayah binaannya ini tidak diragukan lagi. Para petani di kecamatan Jagong Jeget ini memang dikenal sangat gigih dan ulet, sehingga tidak mengherankan jika tingkat perekonomian mereka saat ini boleh diilang cukup tinggi dan kehidupan mereka cukup sejahtera. Hampir semua sub sector pertanian seperti perkebunan, peternakan dan hortikultura, tumbuh sangat baik di daerah ini, tenntunya berkat ketelatenan para penyuluh dan kgigihan para petani. Sinergi semacam inilah yang telah mampu membuat daerah eks transmigrasi ini terlihat lebih maju dibandingkan daerah lainnya. Dan inilah salah satu usaha mereka yang tidak langsung mampu meng’hempang’ bawang putih impor berpenyakit sekaligus menyelamatkan konsumen dari bahaya tersembunyi bawang putih impor