Hadapi Era 4.0, Penyuluh Millenial Aceh Dilatih Manajemen Pengelolaan Alsintan

Kategori : Pertanian Selasa, 26 Maret 2019

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Peserta Diklat Manajemen Pengelolaan Alsintan

Era industry generasi ke empat atau yang lebih populer dengan sebutan industry 4.0 yang kini sudah ‘mewabah’ di seluruh dunia, termasuk Indonsesia, ‘memaksa’ seluruh sector untuk ‘mengikuti irama’ tersebut. Tidak terkecuali sektor pertanian yang di negara kita menjadi penyangga utama sektor industri. Pembangunan pertanian saat ini mau tidak mau juga harus mengikuti skema 4,0 dimana penerapan teknologi menjadi kebutuhan utama dalam pembangunan pertanian.
Yang kemudian terkait erat dengan skema 4.0 di bidang pertanian adalah penggunaan alat dan mesin pertanian yang mengaplikasikan teknologi terkini. Mekanisasi pertanian yang belakangan gencar dilaksanakan oleh jajaran Kementerian Pertanian dari tingkat pusat sampai daerah, memang telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, efisiensi biaya produksi dan memiminimalisir dampak perubahan iklim global dengan rekayasa percepatan musim tanam disesuaikan dengan kondisi iklim mikro setempat. Dengan meningkatnya produktivitas, peluang untuk meningkatnya kesejahteraan petani juga semakin terbuka.
Dalam usaha tani padi yang menjadi tulang punggung program percepatan swasembada pangan misalnya, hampir semua tahapan produksi mulai dari pengolahan lahan sampai pasca panen, sudah menggunakan teknologi pertanian cangging. Dimulai dari pengolahan lahan menggunakan traktor atau traktor tangan, penanaman menggunakan rice transplanter, penyiangan menggunakn mesin penyiang, pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan electric dan automatic sprayer, sampai dengan proses panen dan pasca panen yang kini sudah menggunakan combine harvester. Melalui mekanisasi pertanian ini, usaha tani padi akan semakin menguntungkan, karena hemat waktu, tenaga dan biaya, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan potensi kehilangan hasil bisa diminimalisir dan ‘profit margin’ yang diterima petani akan semakin besar.
Disisi lain, mekanisasi pertanian ini juga membuka peluang industri baru berbasis teknologi pertanian yang banyak menyerap teanga kerja. Demikian juga dengan pengelolaan alat dan mesin pertanian, jika dikelola dengan baik akan bisa menjadi lahan bisnis baru dan menciptakan lapangan kerja. Mulai dari tumbuhnya Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA), munculnya bengkel-bengkel perawatan alsintan sampai alih teknologi alsintan, merupakan dampak positif dari program mekanisasi pertanian ini.


BPSDM Aceh latih penyuluh millennial kelola Alsintan.
Program mekanisasi pertanian yang kini dilakukana secara besar-besaran oleh Kementerian Pertaian, akhirnya menuntut kesiapan para penyuluh pertanian untuk mempu membina petani dalam mengelola alsintan bantuan dari pemerintah. Tanpa pengelolaan yang baik, alat mesin pertanian tersebut tidak akan bertahan lama dan pada akhirnya hanya akan menjadi onggokan besi tua.
Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, para penyuluh millennial dituntut untuk menguasai pengetahuan dan skill yang memadai dibidang manajemen pengelolaan alsintan. Krena mustahil penyuluh akan mampu membina kelompok-kelompok UPJA jika mereka sendiri tidak meiliki kemampuan teknis dan manejerial dalam pengelolaan Alsintan yang kini telah menyebar sampai ke pelosok-pelosok desa yang nota bene merupakan wilayah keja dan binaan para penyuluh pertanian. Namun ironisnya, masih banyak penyuluh pertanian yang belum memiliki keterampilan yang memadai di bidang teknis maupun manajemen pengelolaan alsintan ini, termasuk para penyuluh yang bertigas di provinsi Aceh.
Menyuikapi hala tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) provinsi Aceh bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, saat ini tengah menggelar Diklat ‘Manajemen Pengelolaan Alsintan’ bagi para penyuluh millennial dan petugas mekanisasi pertanian dari seluruh wilayah provinsi Aceh. Diklat ini bertujuan untuk membekali para penyuluh dengan pengetahuan manajemen pengelolaan alsintan, sehingga para penyuluh mampu mejalankan fungsinya sebagai pembina yang baik bagi kelompok-kelompok UPJA.
Diklat yang akan berlangsung selama 5 hari dari tanggal 25 sampai 29 Maret 2019 dan diikuti oleh 30 peserta dari kabupaten/kota se provinsi Aceh ini, Senin (25/3/2019) kemarin dibuka oleh Kepala BPSDM Aceh, Dr. Mahyuzar, M Si didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MM dan Kepala UPTD MEkanisasi Pertanian, drh. Ahdar, MP, bertempat di alula BPSDM Banda Aceh.

Kepala BPSDM Aceh bersama Kadistanbun Aceh pada pembukaan Diklat

Dalam sambutannya, Mahyuzar mengungkapkan bahwa diklat ini merupakan diklat perdana yang dilaksanakan oleh BPSDM Aceh untuk tahun 2019 ini. Dipilihnya diklat manajemen pengelolaan alsintan ini, merupakan bentuk apresiasi dan kepedulaian BPSDM Aceh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian. Lebih lanjut Mahyuzal menyampaikan bahwa pelayanan alsintan saat ini sudah merupakan bagian penting dari pelayanan public, oleh karenanya harus mampu di menej dan dikelola dengan baik sehingga masyarakat terlayani dengan baik. Untuk itu dia berharap agar para penyuluh yang merupakan bagian utama dari pelayanan ini, terus mengasah kemampuan dibidang manajerial pengelolaan alsintan, sehingga semua bantuan alsintan dari pemerintah dapat dikelola dengan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat tani.
“Saya berharap adik-adik penyuluh milleial yang bertugas di provinsi Aceh memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai di bidang manajemen pengelolan alsintan, ibarat perusahaan, manajemen adalah nyawanya , tanpa pengelolaan manajemen yang baik, sebanyak apapun bantuan alsintan dari pemerintah tidak akan memberikan manfaat optimal” uncap Mahyuzar.
Sementara itu Kadistanbun Aceh, Hanan mengungkapkan, bahwa sebenarnya pengelolaan alsintan bantuan pemerintah ini sudah meiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) sendiri, namun masih banyak penyuluh dan petugas yang belum memahami sepenuhnya SOP tersebut. Untuk itu pihaknya menyambut baik upaya BPSDM Aceh untuk meningkatkan kemampuan manajerial penyuluh pertanian dalam pengelolaan alsintan melalui diklat ini.
“Kamu terus berupaya untuk mempercepat proses alih teknologi pertanian ini, dukungan berbagai pihak dalam pengadaan sarana prasarana, serta dukungan administratif dan amanjerial melalaui diklat seperti ini, sangat membantu kami untuk dapat mengelola alsintan sesuai SOP yang ada” tandar Hanan.
Kepala UPTD Mektan Distanbun Aceh, Ahdar yang selama ini menjadi penaggung jawab pengelolaan teknis Alsintan di provinsi Aceh dalam arahannya kepada peserta usai pembukaan, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya agar para pengelola alsintan terus meningkatkan kemandiriannya. Dia berharap kelompok-kelompok UPJA yang sudah terbentuk, nantinya akan mampu berkembang menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMK) maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Mektan. Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan pihaknya, Ahdar menilai sudah ada beberapa UPJA yang layak untuk dijadikan BUMD di Aceh. Dengan terbentuknya BUMP atau BUMD Mektan, pengelolaan alsintan akan lebih professional dan bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
“Ini merupakan tantangan berat bagi kami, tapi kami punya prinsip untuk merubah tantangan menjadi peluang, dan mudah-mudahan tahun ini pembentukan beberapa BUMD Mektan bisa terealisasi” pungkasnya. (FMT)