Membangkitkan Kembali Seni dan Budaya Daerah Sebagai Media Diseminasi Informasi

Kategori : Budaya Sabtu, 15 Desember 2018

Indonesia merupakan negara paling majemuk di dunia, memiliki ribuan pulau, ratusan etnis, ratusan bahasa daerah dan ribuan kesenian dan budaya tradisional . Dalam hal kebhinekaan ini, mungkin tidak ada satupun negara lain yang bisa menyamainya. Ragam etnis dan budaya daerah inilah yang kemudian membentuk karakter bangsa Indonesia yang spesifik yang telah terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu. Di negara lain, keberagaman itu mungkin saja menjadi salah satu sumber konflik dan perpecahan, namun di negara kita keberagaman itu justru menjadi sebuah kekuatan pemersatu yang sudah ditunjukkan oleh bangsa ini sejak dulu.

Kita tentu ingat, bagaimana kerajaaan-kerajaan besar di nusantara pada tempo dulu seperti Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Kutai dan sebagainya, telah membuktikan bahwa cikal bakal persatuan dalam keberagaman ini sudah terbentuk dalam diri angsa ini sejak lama. Begitu juga dengan berbagai agama dan kepercayaan yang tumbuh dalam tubuh bangsa ini, juga nyaris tanpa konflik, karena sejak dahulu kala, bangsa kita dikenal sebagai angsa yang paling toleran di dunia. Tumbuhnya bergam kesenian dan budaya etnis, sama sekali tidak melahirkan pertentangan, bahkan menjadi wahana komunikasi dan sarana mempererat tali silaturrahmi antar etnis.

Budaya daerah sebagai wahana diseminasi informasi dan komunikasi
Eksistensi kesenian tradisional dan budaya daerah sebagai sara komunikasi antar anka bangsa, tidak dapat dinafikan, sudah sejak dahulu keberadaan seni dan budaya etnis yang menjadi symbol peradaban ini dijadikan sebagai sarana pemersatu dalam komunitas etnis maupun antar etnis. Seni dan budaya daerah juga bsa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, karena keterikatan bangsa ini dengan budaya sendiri sangat erat. Pesan moral yang sengaja diselipkan dalam setiap pegelaran seni dan budaya, akan lebih mudah diadopsi dan di implementasikan di kalangan masyarakat.

Sebagai contoh, kesenian wayang kulit di Jawa, inti ceritanya adalah nasehat dan filosofi luhur bangsa. Meski merpkana kebudayaan asli masyarakat di Jawa, namun pesan moral yang diselipkan dalam pertunjukan wayang kulit ini dapat diterjemahkan secara sederhana sehingga juga dapat diadopsi oleh etnis non Jawa. Begitu juga dengan sandiwara tradisional seperti Lenong Betawi, Ketoprak, Wayang Orang dan Ludruk dari Jawa, Randai dari Ranah Minang, Mamanda dari Banjar, Kalimantan Selatan, Sanghyang dari Bali. Kemidi Rudat dari Melayu dan Kedang Buleng dari Bugis misalnya, dalam setiap penampilannya selalu menyisipkan pesan moral dan isu-isu yang sedang tren pada saat itu. Artinya, pegelaran seni tradisional tersebut menjadi bagian dalam penyampaian informasi actual kepada masyarakat. Kecintaan setiap etnis kepada budaya mereka, membuat informasi yang disampaikan melaui pertunjukan budaya lokal ini menjadi sagat efektif dan mudah dicerna oleh publik setempat.

Begitupun budaya daerah dalam bentuk tarian seperti Saman dan Seudati dari Aceh, Tor Tor dari Batak, Tari Payung dan Tari Piring dari Minangkabau, Legong dan Kecak dari Bali, Jaipong dari tanah Sunda, Cakalele dari Maluku, Serimpi dan Gambyong dari Jawa Tengah dan sebagainya, juga menjadi wahana penyampai informasi yang digambarkan melalui gerak dan musik. Jutaan lagu daerah yang lahir dari berbagai etnis di tanah air, intinya juga sebagai sarana penyampai pesan dan informasi tentang potensi dan kekayaan daerah masing-masing. Dengan demikian keberadaan seni dan budaya daerah sebagai sarana komunikasi dan penyebar luasan informasi, masih tetap eksis dan efektif sampai dengan saat ini. Apalagi saat ini, pertunjukan seni dan budaya tradisional juga sudah didukung oleh teknologi informasi, sehingga daya jangkaunya sangat luas.

Kembali dibangkitkan melalui ajang SAIK

Keberadaan Kementerian Komunikasi, Informasi dan Telematika (Kominfo) yang muncul di era reformasi, sejatinya adalah untuk menggantikan peran Departemen Penerangan pada era Orde Baru. Meski berganti nama, sesuai tuntutan zaman, namun fungsi utamanya masih tetap sama, yaitu sebagai pelaku diseminasi informasi dan komunikasi publik. Pada era Departemen Penerangan, pegelaran seni tradisional dengan muatan informasi program-program pemerintah, menjadi agenda rutin di setiap daerah, sampai ke pelosok-pelosok perdesaan. Dan penyampaian informasi dengan media seni dan budaya tradisional tersebut terbukti sangat efektif untuk menginformasikan dan mensosialisasikan program-program pemerintah. Meski peran teknologi informasi pada saat ini begitu dominan dalam aktifitas diseminasi informasi dan komunikasi, namun peran kearifan lokal berupa seni dan budaya daerah sebagai wahana efektif untuk diseminasi informasi, tidak bisa dinafikan begitu saja.

Di beberapa daerah, penyampaian informasi melalui pegelaran seni dan budaya daerah, masih terlus berlanjut sampai sekarang dan terbukti efektif untuk menyampaikan program-program pemerintah, sehingga masyarakat bisa berpartisipasi aktif dalam mendukung program-program tersebut, karena pada intinya semua program pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui penyampaian informasi yang lebih mengedepankan kearifan lokal, partisipati aktif masyarakat akan bisa lebih ditingkatkan.

Fenomena seperti inilah yang kemudian ‘ditangkap’ dan diakomodir oleh Kementerian Kominfo untuk kemudian merangkul kembali seni dan budaya daerah untuk memperkuat diseminasi informasi dan komunikasi public yang menjadi tugas utama kementerian ini dan jajarannya di daerah. Upaya pembinaan kelompok-kelopok seni dan budaya daerah, terus dilakukan oleh jajaran Kominfo di semua daerah, karena di setiap daerah pasti ada jenis kesenian dan budaya dearah yang digemari oleh masyarakat setempat. Dengan demikian penyampaian informasi yang diseipkan melalui pertunjukan rakyat ini akan lebih efektif karena mudah dicerna oleh public di daerah.

Eksistensi seni dan budaya dearah inilah yang kemudian diangkat oleh Kementerian Kominfo pada ajang Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi Publik (SAIK) yang pada tahun 2018 ini dilaksanakan di Kota Tangerang Banten pada awal buan Desember 2018 ini. Dalam ajang SAIK 2018 yang dipusatkan di Lapangan Jenderal Ahmad Yani, Tangerang ini, sebuah panggung khusus disediakan untuk menampilkan berbagai bentuk seni dan budaya dari berbgai daerah di Indonesia.

Dalam pentas yang diberi tajuk ‘Pertunjukan Rakyat’ (Petunra) ini, selama dua hari (2-3 Desember 2018) yang lalu, ditampilkan berbagai jenis kesenian dan budaya yang diusung oleh peserta SAIK dari seluruh daerah di Indonesia. Tari Saman dari Aceh sampai Tari Selamat Datang dari Papua, turut menghiasi pentas yang selama dua hari itu dipadati ribuan pengunjung ini.Begitu juga teater tardisional seperti ludruk yang tampil dengan banyolan-banyolan khasnya, cukup menyedot perhatian pengunjuang yang bukan saja dari seputaran kota Tangerang, tapi dari seluruh Indonesia. Peserta SAIK tahun 2018 yang datang dari hampir semua daerah ini, jumlahnya sekitar 1.500 orang, para peserta SAIK inilah yang akhirnya berbaur dengan warga kota Tangerang ikut meramaikan even tahunan ini.

Tak segedar menggelar pentas pertunjukan rakyat ini semata sebagai sebuah hiburan, Kementerian Kominfo sejatinya sedang menyampaikan pesan kepada semua peserta bahwa keberadaan seni dan budaya daerah merupakan bagian penting dari diseminasi informasi dan komunikasi public. Itulah sebabnya, dalam pembukaan acara ini, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Dr. Rosarita Niken Dwiastuti, yang hadir mewakili Menteri Kominfo, Rudyantara, berpesan kepada semua peserta yang kebanyakan dari jajaran Kominfo dari berbagai daerah agar terus membina dan membangkitkan kembali kesenian dan budaya daerah di daerah masing-masing. Niken juga berharap keberadaan komunitas seni dan budaya daerah dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk mendukung program diseminasi informasi yang menjadi tugas utama jajaran kominfo.

“Meski kita sudah memasuki era teknologi informasi, namun sebagai bangsa yang sangat menghormati dan menghargai budaya sendiri, keberadaan seni dan budaya daerah masih tetap relevan sebagai wahana diseminasi informasi dan komunikasi publik, untuk itu kami berharap agar setiap daerah terus melakukan pembinaan dan membangkitkan kembali seni dan budaya daerah untuk membantu tugas kita dalam menyebarluaskan informasi yang bermanfaat di tengah masyarakat karena sebagian besar masyarakat kita tinggal di perdesaan yang masih punya keterikatan psikologis dengan seni dan budaya di daerahnya” ungkap Niken.

Apa yang disampaikan Niken memang tidak meleset dari ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang aktifitas diseminasi informasi publik. Dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 17/PER/M.KOMINFO/03/2009 tentang Diseminasi Informasi Nasional Oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, telah diatur bahwa setiap daerah minmal harus mennyelenggarakn pertunjukan rakyat dengan menampilkan seni dan budaya daerah sekurang-kurangnya satu kali sebulan. Terakmodirnya seni dan budaya daerah dalam Peraturan Menteri Kominfo tersebut adalah bukti bahwa eksistensi seni dan budaya daerah dianggap sebagai salah satu media efektif dalam penyebarluasan (diseminasi) informasi publik. (FMT)