Tantangan Untuk Mengembangkan dan Melestarikan Alpukat Juara

Kategori : Pertanian Rabu, 31 Mei 2017

Alpukat (Persea americana L) merupakan salah satu komoditi buah yang sudah lama berkembang di kabupaten Aceh Tengah. Tanaman yang aslinya berasal dari Amerika Latin ini banyak ditemui disela-sela kebun kopi yang ada di daerah ini. Meskipun belum dibudidayakan secara monokultur, namun alpukat Gayo, namun belakangan komoditi ini mampu menjadi salah satu penunjang perekonomian masyarakat Gayo, karena harga komoditi ini dari hari ke hari terus mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Menjamurnya kafe-kafe di hampir semua kota yang menyajikan aneka jus buah, juga menjadi pemicu meningkatnya permintaan akan komoditi ini.

Bagi para petani di Gayo, alpukat memang belum menjadi komoditi prioritas, karena masih dianggap sebagai tanaman selingan di kebun kopi mereka, sampai dengan saat ini mereka masih fokus pada budidaya kopi arabika yang memang menjadi andalan perekonomian masyarakat di daerah ini. Namun seiring dengan terus meningkatnya permintaan pasar, para petani juga mulai melirik peluang ini. Komoditi yang selama ini nyaris tidak ada harganya ini, kini berubah menjadi komoditi yang nilai ekonomisnya cukup tinggi. Di tingkat petani saja, saat ini harga alpukat yang baru dipetik dari pohonnya bisa mencapai 5 – 7 ribu rupiah per kilogramnya, sementara di pasar bisa mencapai 10 -12 ribu rupiah per kilogram, bahkan pada saat terjadi kelangkaan, harganya bisa mencapai 15 ribu rupiah. Tentu ini bisa menjadi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan, karena budidaya alpukat tidaklah sulit, begitu juga dengan syarat tumbuh tanaman ini, tidak membutuhkan kondisi tanah dan topografi spesifik, karena tanaman ini dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah.

Keberadaan alpukat Gayo mulai dilirik serius oleh petani maupun pelaku usaha pertanian, mulai tahun 2005 yang lalu. Kondisi kemanan wilayah Aceh yang mulai kondusif, memicu meningkatnya permintaan pasar luar daerah akan komoditi ini. Ini yang membuat para petani mulai memperhatikan tanaman alpukat mereka, yang selama ini nyaris tanpa perawatan dan pemeliharaan semestinya. Perhatian juga mulai ditunjukkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah yang mulai melirik potensi pengembangan komoditi alpukat di daerah ini. Meski masih dalam skala terbatas, instansi teknis di bidang pertanian ini, muai eksis membagikan bibit alpukat untuk dikembangkan oleh para petani.

Meningkatnya permintaan pasar akan komoditi alpukat Gayo ini juga tidak terlepas dari sifat spesifik alpukat Gayo yang tidak dimiliki oleh jenis alpukat dari daerah lain. Alpukat Gayo memiliki tekstur daging buah yang lembut tapi kadar airnya tidak terlalu tinggi, daging buahnya tebal dan tidak berserat serta rasa dan aromanya khas, kulit buahnya yang mulus dengan warna hijau mengkilat, juga menjadi salah satu daya tarik komoditi ini. Keunggulan alpukat Gayo ini yang kemudian menarik perhatian seorang penyuluh senior, Wiknyo untuk mengembangkan dan melestarikan alpukat unggul ini, agar tidak musnah. Dia menyempatkan diri selama berbulan-bulan untuk “berburu” berbagai jenis alpukat yang tumbuh di Datran Tinggi Gayo, sampai akhirnya dia menmukan salah satu jenis alpukat yang memiliki berbagai keunggulan tersebut. Alpukat yang pohon induknya berada di desa Umang kecamatan Bebesen inilah yang kemudian diberi nama Alpukat Gayo. Setelah berhasil menemukan keunggulan komoditi alpukat Gayo, Wiknyo juga kemudian berusaha agar bual lokal ini mendapat pengakuan dan legalitas secara nasional. Didukung sepenuhnya oleh Dinas Pertanian setempat, upaya Wiknyo tidak sia-sia, melalui perjalanan panjang dan berbagai tahapan, akhirnya alpukat Gayo mendapat pengakuan sebagai salah satu komoditi unggul nasional. Pengakuan secara nasional itu tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 78/Kpts/SR.120/12008 tanggal 21 Januari 2008.

Tapi apalah artinya pengakuan dan legalitas dari Kementerian Pertanian itu jika tidak diiringi upaya pengembangan dan pelestarian komoditi ini, begitu juga dengan upaya mempromosikan komoditi ini agar dikenal lebih luar di luar daerah. Itulah sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah eksis melaksanakan program pengembangan komoditas unggulan spesifik daerah, termasuk Alpukat Gayo ini.

Raih Juara Pertama Kontes Hortikultura Penas XV

Tahun 2017 ini, kebetulan provinsi Aceh mendapat kehormatan sebagai tuan rumah even akbar Pekan Nasional (PENAS) ke XV Petani Nelayan, tentu saja even akbar yang dihadiri tidak kurang 35 ribu peserta ini menjadi momentum penting untuk mempromosikan berbagai komoditi pertanian unggulan dari provinsi Aceh. Tidak ketinggalan komoditi unggul dari Dataran Tinggi Gayo juga ikut diperkenalkan dan dipromosikan melalui ajang Penas ini.

Kontes Hortikultura yang merupakan salah satu Agenda Penas XV, kemudian dijadikan ajang pembuktian bagi keunggulan komoditi alpukat Gayo ini. Lagi-lagi, Wiknyo, penuluh pertanian yang telah memasuki masa pensiun ini, yang punya andil besar dalam kontes hortikultura ini. Mengusung buah alpukat yang ditanam di kebunnya sendiri, Wiknyo mampu mempersembahkan yang terbaik bagi daerahnya. Tidak tanggung-tanggung, alpukat yang dikutsertakan dalam kontes tersebut, langsung menyabet predikat Juara Pertama, menyingkirkan alpukat yang berasal dari daerah lain yang sebenarnya sudah lebih dulu dikenal dibandingkan alpukat Gayo. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi kita, bukan hanya masyarakat Gayo, tapi juga masyarakat Aceh pada umumnya, karena keikutsertaan alpukat Gayo ini dalam even tersebut juga mewakili provinsi Aceh.

Tapi bukan sekedar sebuah kebanggaan dari raihan prestasi tersebut, sebuah tantangan besar justru telah menanti para pihak yang terkait dengan pembangunan pertanian di Dataran Tinggi Gayo. Alpukat juara, bukan sekedar tampil dalam acar kontes semata, tapi juga diharapkan mampu mengisi pasar buah di kota-kota besar di Indonesia, karena dengan predikat juara, pasti akan banyak yang menjari buah ini. Dan untuk bisa memenuhi permintaan pasar tersebut, tentu harus ada upaya berkesinambungan untuk melestarikan dan mengembangkan komoditi ini secara intensif. Kedepan, tanaman alpukat harus dikembangkan secara monokultur, tidak sekedar mengandalkan pola tumpangsari dengan tanaman kopi, karena dengan sistim monokultur, tentu saja kualitas dan kuantitas produksi akan lebih mudah dikontrol. Demikian juga dengan kontinuitas produksi, akan bisa terjaga, sehingga permintaan pasar dapat dipenuhi setiap saat. Dan ini menjadi “PR” serius bagi Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah maupun Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh kedepan. (Fathan Muhammad Taufiq)

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84