Petani Jagong Jeget Panen Padi di Lahan Sawah Hasil Swadaya

Kategori : Pertanian Kamis, 18 Mei 2017

Secara umum wilayah kecamatan Jagong Jeget yang berada di daerah perbukitan ini memang hanya potensial untuk pengembangan komoditi perkebuanan sepetri Kopi dan komoditi palawija seperti Jagung, Ubi Kayu, Kacang Merah serta komoditi hortikultura seperti Kentang, Cabe, Bawang Merah, Kol, dan sebagainya. Dari segi topografi, wilayah ini memang sulit untuk pengembangan komoditi padi sawah, meskipun sebenarnya masyarakat disana sangat berharap bisa memiliki lahan sawah sendiri, sehingga mereka tidak selalu bergantung pasokan bahan pangan utama dari luar.
Meski demikian, ada beberapa wilayah di kecamatan ini yang memiliki potensi untuk pengembangan sawah seperti kampung Gegarang dan Telegesari. Wilayah ini merupakan dua kampung di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah yang memiliki potensi untuk pengembangan lahan sawah karena didukung oleh sumberdaya alam yang sangat memadai. Ada beberapa kawasan di kedua kampung ini yang layak untuk dijadikan areal persawahan, khususnya daerah rawa di sekitar Danau Lut Kucak Gegarang. Disamping lahannya yang subur, di kawasan ini ketersediaan air juga memadai sepanjang tahun, karena memang kondisi tanahnya berupa rawa dan air di sekitar danau juga cukup melimpah.
Sudah sejak lama masyarakat kedua kampung ini mendambakan kehadiran program cetak sawah baru, karena selama ini kebutuhan pangan utama mereka berupa beras masih bergantung pasokan dari luar. Beberapa kali mereka sudah mengusulkan agar dialokasikan program cetak sawah baru di daerah ini, namun sampai saat ini program tersebut belum juga menjangkau mereka. Padahal keinginan mereka cukup sederhana, yaitu bisa memenuhi kebutuhan pangan utama dengan hasil padi dari daerah sendiri, sehingga hasil pertanian lainnya seperti Kopi, Palawija dan Hortikultura yang mereka usahakan selama ini, dapat mereka manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lain seperti membangun rumah, membeli kendaraan dan menyekolahkan anak.
Membuka sawah secara swadaya.
Bosan menunggu program cetak sawah baru yang tak kunjung terealisasi, beberapa petani yang dimotori oleh Mudiyono, mencoba untuk “merukah” lahan rawa di sekitar Lut Kucak untuk mereka jadikan sebagai lahan sawah. Dengan menggunakan peralatan seadanya sepertiparang, cangkul, linggis dan garpu, mereka mulai menggarap lahan berupa hamparan bambu air (prumpungan) atau Pelu untuk dijadikan petak-petak sawah. Mereka juga membuat tali air atau jaringan irigasi sederhana mengitari areal persawahan yang baru mereka buka, maka jadilah lahan rawa/paya tersebut menjelma sebagai lahan sawah yang siap untuk ditanami padi setelah mereka bekerja keras untuk “menaklukkan” tanaman bambu air yang teryata sangat sulit untuk dimusnahkan. Tidak luas memang, hanya sekitar 5 hektar, karena untuk menghasilkan areal sawah yang lebih luas tentu tidak bisa hanya mengandalkan peralatan sederhana seperti itu.
Sudah sekitar 7 tahun mereka menggarap lahan sawah baru hasil swadaya mereka, dan hasilnyapun sudah mulai mereka rasakan. Minimal selama beberapa tahun kebelakang ini, para penggarap sawah itu tidak perlu lagi membeli beras untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, bahkan mereka juga sudah bisa menjual sebagian hasil panen padi mereka kepada warga lainnya yang tidak ikut bersawah.
Rabu (16/5/207) kemarin, Mudiyono dan kawan-kawan sengaja mengundang para penyuluh dan Babinsa di kecamatan Jagong Jeget untuk menyaksikan keberhasilan mereka mengelola sawah secara swadaya. Sebenarnya ini bukanlah panen perdana, karena beberapa tahun sebelum nya juga telah memanen padi dari sawah mereka. Mudiyono sengaja mengundang mereka untuk menyaksikan langsung sekaligus ingin membuktikan bahwa daerah tersebut memang layak untuk dijadikan lahan persawahan.
Kepala BPP Jagong Jeget, Paiman, SP yang hadir bersama Babinsa Gegarang-Telegesari merasa terkesan dengan hasil panen petani di kedua desa ini. Dari hasil ubinan yang dilakukannya bersama para penyuluh dan Babinsa, produktivitas padi para petani di desa Gegarang dan Telegesari ini bisa mencapai 4 – 4,5 ton per hektar. Angka yang cukup tinggi untuk padi varietas lokal yang mereka tanam., karena selama ini memang mereka hanya menanam padi lokal yang sudah beradaptasi dengan kondisi agroklimat di daerah ini. Kedepannya, Paiman menyarankan kepada petani untuk mencoba varietas unggul Inpari 28, karena dengan penggunaan varietas unggul ini, produktivitas bisa ditingkatkan dan petani bisa menanam dua kali dalam setahun.
“Varietas lokal memang dapat tumbuh dengan baik disini karena sudah beradaptasi dengan kondisi setempat, tapi padi lokal umurnya sangat panjang, bisa sampai 7 – 8 bulan, jadi setahun mereka cuma bisa sekali menanam” ungkap Paiman “ Kami sudah menyarankan kepada petani untuk mencoba varietas unggul Inpari 28 yang sudah terbukti adaptatif untuk dataran tinggi, dengan varietas unggul ini, produktivitas padi akan bisa ditingkatkan, begitu juga dengan indeks petanamannya, akan bisa ditingkatkan dari sekali menjadi dua kali setahun, tentunya hasil yang akan mereka dapatkan akan lebih baik” lanjutnya.
Tahun 2017 ini mendapat alokasi cetak sawah baru
Merespon apa yang telah dilakukan oleh Mudiyono dan kawan-kawan yang sudah berhasil membuka sawah baru secara swadaya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, drh Rahmandi, M Si sudah mengalokasikan program percetakan sawah baru di daerah ini pada tahun anggaran 2017 ini. Beberapa waktu yang lalu, dia bersama jajaran Kodim 0106/Aceh Tengah telah meninjau lokasi ini dan menurutnya lokasi ini memang sangat layak dijadikan areal persawahan.
Menurut rencana di kedua desa yang saling berdekatan ini, akan dialokasikan program cetak sawah baru seluas 60 hektar dan akan segera direalisasikan pada tahun ini.
“Dari hasil peninjauan kami dan survey yang telah dilakukan oleh petugas kami sebelumnya, kami optimis lokasi ini bisa dijadikan areal persawahan produktif, selain sumberdaya air yang sangat memadai, para petani disini juga cukup antusias untuk mendukung program ini, karena sebenarnya ini sudah menjadi keinginan mereka sejak lama” ungkap Rahmandi ketika meninjau lokasi beberapa waktu yang lalu.
Tentu saja program cetak sawah baru yang dialokasikan di daerah ini, disambut gembira oleh para petani disana, dengan luas areal 60 hektar ditambah 5 hektar sawah hasil swadaya, mereka sangat optimis akan mampu kebutuhan pangan di kedua kampung tersebut.
“Dengan 5 hektar sawah yang kami buka secara swadaya ini saja, setidaknya 10 KK di desa ini sudah terpenuhi kebutuhan pangannya tanpa harus membeli, jika ditambah dengan 60 hektar sawah baru, kami yakin kebutuhan pangan semua wargadisini akan tercukupi dari sawah kami sendiri” ungkap Mudiyono “ Kami berharap program ini segera terealisasi, kami para petani siap untuk mendukung dan berperan aktif mensukseskan program ini” pungkasnya.( Fathan Muhammad Taufiq)

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84