Memasak Tak Harus Pakai Listrik dan Gas Elpiji

Kategori : Ekonomi Kamis, 18 Mei 2017

Sering mati listrik, stok gas elpiji langka atau mahal, mungkin bisa menjadi sumber kekesalan bagi banyak orang. Bagaimana tidak, sedang menggunakan alat elektronik, atau sedang menonton televisi, tiba-tiba “pet” listrik mati, pasti orang kesal, lebih-lebih kalau pemadamannya nggak pake pemberiathuan terlebih dahulu. Atau para isteri sedang memasak didapur, masakan belum matang, tiba-tiba gas elpiji habis, mau nyari ke kios atau pengecer jauh, bahkan kadang- kadang sampai di kios, stok elpiji lagi habis, pasti bikin kesal juga kan?.
Tapi itu tidak berlaku lagi bagi Aris Supriyanto dan kelompoknya, warga desa Paya Tungel, Jagong Jeget, Aceh Tengah ini tidak lagi pusing dengan urusan listrik atau gas elpiji, kok bisa?.
Sudah setahun lebih Aris bersama kelompok tani ternak Giri Mulyo, sudah mengembangkan pyoyek biogas dengan skala terbatas. Dengan bantuan peralatan dan bimbingan teknis dari Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Aris dan kawan-kawan, secara swadaya telah berhasil membangun instalasi biogas di lingkungan tempat tinggalnya. Kebetulan kelompok tani dimana dia bergabung, merupakan kelompok tani ternak yang cukup berhasil dalam peternakan sapi. Sistim perkandangan yang tertata apik, membuat kotoran atau limbah ternak tidak berceceran dimana-mana. Nah limbah ternak inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Aris dan kawan-kawan untuk bahan baku biogas.
Hasilnya, Aris dan anggota kelompok taninya kini sudah bisa menikmati hasilnya, gas bio yang berasal dari instalasi biogas itu kemudian disalurkan ke beberapa rumah di sekitar instalasi. Dan mereka langsung dapat memanfaatkan gas bio itu untuk beberapa keperluan rumah tangga, seperti untuk menghidupkan kompor gas untuk keperluan memasak, menghidupkan bola lampu untuk penerangan rumah sampai untuk keperluan mesin pemanas air. Ditengah udara dingin pegunungan yang menusuk tulang, keberadaan pemanas air memang sangat dibutuhkan oleh warga di seputaran wilayah Jagong Jeget yang berada pada ketinggian diatas 1.500 meter di atas permukaan laut ini. Aris nggak membutuhkan listrik dan elpiji lagi, karena alat itu dapat difungsikan dengan menggunakan gas bio hasil olahannya bersama teman-temannya.
Berada jauh dari pusat kota, sekitar 60 kilometer dari kota Takengon, arus listrik di wilayah ini memang sering “byar pet”, begitu juga dengan pasokan gas elpiji, juga sering terjadi kelangkaan, ini sangat mengganggu aktifitas keseharian warga di daerah eks pemukiman transmigrasi ini. Tapi Aris sudah punya solusi sendiri, meskipun masih terbatas pada anggota kelompoknya. Wilayah Jagong Jeget memang merupakan daerah potensial pengembangan ternak, khususnya sapi, apa yang telah dicontohkan dan ditawarkan oleh Aris, sebenarnya bisa jadi solusi untuk mengatasi kekesalan warga. Banyaknya ternak milik warga juga menghasilkan banyak limbah ternak yang sejatinya bisa diolah menjadi gas bio, hanya dengan membuat instalasi sederhana seperti yang dilakukan Aris dan kawan-kawan.
Cukup dengan membuat tangki penampung limbah dari batu bata dan semen, kemudian membuat jaringan pipa dari instalasi biogas ke rumah-rumah warga. Maka limbah ternak tersebut sudah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi pengganti listrik dan gas elpiji. Memang butuh ketelitian dalam membangun instalasi biogas ini, tapi Aris dan kawan-kawan yang sudah punya pengalaman mengelola instalasi biogas, dengan senang hati akan membantu warga yang berkeinginan membangun instalasi secara swadaya.
Dari pengalaman Aris bersama kelompoknya, sebuah tangki biogas dengan kedalaman 3 meter dan diameter 2 meter, akan mampu menyuplai keutuhan listrik dan gasa minimal untuk sepuluh rumah. Dan itu sudah akan membantu menghemat pengeluaran warga setiap bulannya samapi ratusan ribu. Sementara untuk membangun sebuah instalasi biogas, juga tidak dibutuhkan biaya yang terlalu besar dan dapat digunakan sapai beberapa tahun asal dirawat dengan baik. Memang instalasi biogas yang dibuat oleh Aris dan kawan-kawan, dibantu pembiayaannya oleh pemerintah, tapi untuk pengerjaaanya, mereka harus berswadaya sendiri. Tapi kalaupun tidak difasilitasi pemerintah, mereka [un sanggup untuk membuatnya, karena selain sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman, cost yang dikeluarkan juga tidak begitu besar.
“Untuk membeli peralatan, sekitar 10 sampai 15 juta rupiah sudah cukup, sementara untuk perakitan dan pemasangan dapat kami lakukan sendiri karena kami sudah diberikan pelatihan oleh BPTP” ungkap Aris, sementara untuk bahan baku berupa limbah ternak sama sekali tidak ada kendala, tinggal memindahkan dari kandang kedalam tangki penampungan, karena disini banyak warga yang memlihara ternak dengan sistim perkandangan yang cukup baik, lanjutnya.
Angka sepuluh sampai lima belas juta mungkin termasuk besar, tapi mengingat instalasi ini bisa digunakan beberapa tahaun, bahkan sampai puluhan tahun, jumlah tersebut bisa menjadi jauh lebih kecil, jika dibandingkan dengan pembayaran rekening listrik dan membeli gas elpiji, apalagi ditengah fenomena tariff listrik dan harga gas elpiji yang terus merangkak naik.
Kini bagi Aris dan kawan-kawan, mati lampu atau kelangkaan gas elpiji, bukan kendala yang mesti dikesalkan lagi, karena dia sudah punya solusi sendiri. Siapa sangka, limbah ternak yang selama ini terbuang percuma, ternyata bisa jadi alternative sumber energi, hanya dengan sedikit sentuhan teknologi sederhana. Masalah listrik atau gas elpiji bukanlah untuk dikesali apalagi sampai diserta sumpah serapah, selama ada kemauan, pasti ada solusi, karena potensi energi terbarukan banyak tersedia disekitar kita, tergantung kita mau memanfaatkan atau tidak. Tapi setidaknya apa yang dilakukan oleh Aris dan kawan-kawan sudah bisa menjadi motivasi bagi kita untuk tidak selalu bergantung pada listrik negara atau subsidi gas elpiji. (Fathan Muhammad Taufiq)

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84