Prediksi BMKG, Curah Hujan Akan Guyur Wilayah Tengah Aceh Sampai Mei 2017

Kategori : Lingkungan Rabu, 19 April 2017


Berdasarkan informasi cuaca yang kami terima dari BMKG, dari hasil pemantauan satelit cuaca Himawari, menunjukkan telah terjadi pembentukan awan-awan konvektif (Cumulonimbus) dalam jumlah besar di hampir semua wilayah Aceh, termasuk Aceh bagian Tengah (Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tengah). Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan diprediksi akan terus mengguyur wilayah tengah Aceh sampai dengan pertengahan bulan Mei 2017 yang akan datang. Dari hasil pemantauan satelit cuaca tersebut, juga terlihat bahwa sebaran curah hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi berpeluang terjadi pada sore hingga malam hari.

Kondisi seperti ini sedikit “menyimpang” dari kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya, dimana pada bulan April dan Mei, biasanya curah hujan di wilayah ini mulai berkurang. Namun pada tahun 2017 ini, ternyata curah hujan pada bulan April dan Mei masih cukup tinggi. Dari catatan curah hujan hasil pengamatan dan pencatatan curah hujan harian yang penulis lakukan, curah hujan di wilayah kecamatan Pegasing, Aceh Tengah pada bulan April 2016 yang lalu tercatat sebesar 251 mm, sementara pada bulan April 2017 ini, sampai dengan tanggal 18 (hari ini), sudah tercatat curah hujan sebesar 452 mm atau terjadi peningkatan hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Sementara hasil pencatatan curah hujan harian pada bulan Maret 2017 juga mengalami peningkatan sangat signifikan dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Bullan Maret 2017 tercatat curah hujan sebesar 386 mm, sementara pada bulan Maret 2016 yang lalu, curah hujan hanya 9 mm. Perubahan curah hujan secara drastic inilah yang penulis tengarai menjadi penyebab terjadinya banjir bandang yang melanda kampung Daling, Bebesen dan beberapa kampung di kecamatan Kebayakan beberapa waktu yang lalu.
Selain curah hujan yang inetensitasnya cukup tinggi, pengelolaan drainase dan waduk penampung air yang kurang baik, juga menjadi pemicu terjadinya musibah tersebut. Lihat saja Tamak/Chek Dam yang ada di kampung Pinangan misalnya, saat ini tidak lagi berfungsi sebagai pengendali air, karena sudah mengalami pendangkalan dan nyaris tidak pernah dilakukan pengerukan. Sehingga ketika terjadi luapan air dari hulu, chek dam ini tidak mampu menampung debit air yang lumayan besar itu dan akhirnya air meluap kemana-mena menngenangi beberapa wilayah di kecamatan Kebayakan yang topografinya lebih rendah.

Pihak BMKG menengarai, gejala ini sebagai efek dari perubahan iklim global (Global Climate Change) yang juga telah memasuki wilayah Aceh pada umumnya. Masih relative tingginya curah hujan dalam dua bulan ini, kemungkinan akan berdampak terjadinya banjr bandang dan longsor pada wilayah-wilayah yang ekosistemnya mulai terganggu akibat kerusakan lingkungan.

Pada wilayah yang vegetasi hutan dan lingkungannya masih terjaga, curah hujan sebesar apapun, kemungkinan tidak akan akan menimbulkan bencana banjir maupun longsor. Karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para pakar Klimatologi, kondisi hutan yang masih lestari akan mampu menahan curah hujan 70-80 persen, sehingga air hujan yang akan sampai ke permukaan hanya berkisar 20 -30 persen saja, dan ini tidak akan menimbulkan dampak bencana. Namun pada kawasan yang ekosistemnya telah terganggu atau mengalami kerusakan, curah hujan akan langsung melanda permukaan tanpa ada yang menhannya, sehingga ketika intensitas curah hujan meningkat, kemungkinan terjadinya banjir maupun tanah longsor juga cukup tinggi.
Prediksi Daerah Rawan Banjir.

Berdasarkan analisa sifat curah hujan yang terjadi sebelumnya, BMKG juga sudah memetakan daerah-daerah yang rawan banjir dengan tingat kerawanan rendah sampai sedang. Daerah rawan banjir dengan tingkat kerawanan rendah diperkirakan terjadi di bagian pesisir utara Aceh dan sebagian pesisir barat selatan Aceh serta wilayah tengah Aceh.Sementara daerah rawan banjir dengan kategori sedang, diprediksi bisa erjadi di bagian utara Pidie dan Pidie Jaya, bagian timur Bener Meriah, sebagian Aceh Tamiang, Aceh Selatan bagian selatan dan sebagian wilayah Aceh Tenggara. Meski wilayah Aceh Tengah tidak termasuk wilayah yang diprediksi menjadi daerah rawan banjir, namun bukan berarti kita bisa menurunkan tingkat kewaspadaan kita. Musibah banjir bandang yang terjadi pada bulan Maret 2017 yang lalu, cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu waspada menghadapi segala kemungkinan, karena sampai saat ini, intensitas curah hujan di daerah ini relatif masih tinggi.

Melihat anomali iklim dan cuaca yang terjadi belakangan ini, pihak BMKG juga sudah menyampaikan Early Warning (peringatan dini) pada daerah-daerah yang diperkirakan menjadi daerah rawan banjir, mengingat sampai saat ini curah hujan masih terus mengguyur terutama pada sore dan malam hari. Pihak BMKG juga menghimbau kepada masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan, karena dampak dari curah hujan yang terjadi pada sore dan malam hari, agak menyulitkan langkah-langkah antisipasi. Untuk itulah BMKG menghimbau kepada masyarakat yang tinggal pada daerah-daerah rawan banjir maupun longsor untuk terus memantau perkembangan curah hujan di derah masing-masing, dan jiga curah hujan terus mengalami peningkatan dan terjadi dalam waktu yang relative lama, diharapkan masyarakat dapat tindakan evakusi diri (self evacuation) dengan menghindari daerah-daerah rawan banjir tersebut untuk sementara.

Kalau dikaitkan dengan kondisi faktual di lapangan, maka analisis dan prediksi cuaca dari BMKG ini bisa dijadikan acuan untuk meningkatkan kewaspadaan kita. Banjir bandang yang terjadi di beberapa bagian dari kabupaten Aceh Tenggara, dan wilayah barat dan selatan Aceh beberapa hari yang lalu, mestinya bisa menjadi perhatian semua pihak untuk tidak mengabaikan early warning dari BMKG ini.

Selain curah hujan yang tinggi, kerusakan lingkungan dan pengelolaan drainase yang kurang baik, juga menjadi pemicu terjadinya musibah banjir di berapa wilayah. Revitalisasi fungsi sungai, parit dan bendungan penampung air, mutlak diperlukan untuk meminimalisir dampak tingginya curah hujan yang terjadi belakangan ini. Langkah-langkah antitapatif dengan melakukan normalisasi sungai seperti yang dilakukan oleh masyarakat kampung Lot Kala Kebayakan bersama para pegiat lingkungan beberapa waktu yang lalu, mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak luapan air hujan yang terjadi di daerah hulu. Dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, akhirnya menjadi kunci solusi dari permasalahan ini. (Fathan Muhammad Taufiq)

 

 

 

 

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Takengon
Lat: 4.62
Lng: 96.84