Ketika Penyuluh Pertanian Jadi Pembimbing Praktek Lapang Siswa SMK
Diposting pada Selasa, 28 Agustus 2018

Salah satu tujuan pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah untuk melahirkan kader-kader terampil yang memiliki skill memadai untuk terjun ke lapangan kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri melalaui kewira usahaan (enterpreneurship). Itulah sebabnya, sejak awal, para siswa sudah diajarkan praktek langsung pada bidang atau program study masing-masing. Praktek lapang tersebut biasanya dilaksanakan di tempat mitra kerja SMK yang bersangkutan, seperti lembaga pemerintah atau swasta, perusahaan atau lahan usaha tertentu.
Begitu juga yang dilakukan oleh SMK Negeri 2 Takengon yang merupakan ‘metamorfosa’ dari Sekolah Menengah Teknologi (SMT) Pertanian dan Sekolah Teknik Menengah (STM) Pertanian yang sudah berdiri sejak tahun 1980an. Meski sekarang sudah berubah menjadi SMK Umum, namun sekolah kejuruan ini tetap tidak melupakan cikal bakal sebagai satu-satunya sekolah menengah atas di wilayah Dataran Tinggi Gayo yang menfokuskan diri untuk mendidik kader-kader pertanian. Salah satunya dengan mempertahankan salah satu program studi (prodi) agribisnis di sekolah ini.
Dipertahankannya prodi agribisnis ini adalah sebagai salah satu upaya ‘mencetak’ kader-kader pertanian yang memiliki jiwa agribisnis dan enterpreneurship di bidang pertanian, karena wilayah kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah pertanian yang kehidupan sebagian besar warganya bergantung pada sektor ini. Komoditi pertanian seperti Kopi Arabika, Kentang, Cabe, Tomat, Jeruk, Alpukat, Nanas dan berbagai komoditi pertanian lainnya, sudah sejak lama dikenal sebagai penyangga perekonomian masyarakat di daerah berhawa sejuk dan bertopografi perbukitan ini. Jalin kemitraan dengan penyuluh pertanian. Yang membuat SMK berbeda dengan sekolah menengah umum lainnya, adalah penerapan Pendidikan Standar Ganda (PSG) dimana setiap siswa selain mendapatkan pembelajaran melalui kurikurum formal, juga dibekali dengan Praktek Kerja Industri (Pakerin) agar
memiliki pengalaman untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan memiliki skill untuk memulai usaha sebagai entrepreneur. Mengoptimalkan pembekalan bagi para siswanya, pihak SMK Negeri 2 Takengon kemudian menjalin kemitraan dengan para pihak yang dianggap layak untuk membantu para siswa untuk mendapatkan pengalaman dan menambah skill mereka. Salah satu lembaga yang kemudian ‘dilirik’ oleh Kepala SMK Negeri 2 Takengon, Hajarussalam, MPd adalah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bebesen, Aceh Tengah. Tempat bernaungnya para penyuluh pertanian di wilayah kecamatan Bebesen ini dinilai layak untuk ‘dititipi’ para siswa dari
program studi Agribisnis untuk menimba ilmu dan pengalaman bagi para siswa.
Salah satu keberhasilan BPP Bebesen yang sudah terlihat nyata adalah mengembangkan kawasan Pantan Terong yang dulunya hanya berupa hamparan ilalang dan pakis, menjadi lahan hortikultura dengan berbagai komoditi pertanian seperti kentang, kol, wortel dan lain- lainnya. Balai penyuluhan yang sejak beberapa tahun terakhir ini dikoordinir oleh Athaullah, SP, memang menjadi salah satu BPP yang para penyuluhnya sangat aktif dalam melakukan pembinaan kepada petani.
Penyuluh pertanian menjadi pembimbing praktek lapang. Sesuai dengan tugas dan fungsi penyuluh pertanian sebagai pelayan publik di bidang pertanian, Athaullah dengan senang hati menerima tawaran kerja sama dari sekolah yang nota bene juga sebagai almamaternya itu. Dengan telaten, Athaullah dibantu oleh penyuluh pertanian lainnya serta seorang petani muda, Safriga, kemudian melakukan bimbingan kepada tiga orang siswa SMK yang ‘dititipkan’ kepadanya selama kurang lebih tiga bulan ini.
Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai penyuluh pertanian maupun petugas teknis hortikultura, Athaullah mulai mengajarkan berbagai seluk beluk pertanian kepada kader muda pertanian tersebut. Mulai dari menyusun perencanaan, membuat analisa usaha tani, pengenalan teknis perbenihan, praktek pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman, budidaya berbagai komoditi hortikultura, sampai penanganan pasca panen dan pemasaran produk pertanian.
Ahmad Yani, Hendrawansyah dan Ikmal, nama ketiga siswa praktek lapang ini sangat beruntung bisa mendapatkan bimbingan langsung dari para penyuluh senior yang juga praktisi pertanian ini. Selain di kantor BPP, para siswa lebih sering untuk terjun langsung ke lahan pertanian yang dikelola Athaullah bersama teman-teman penyuluh dan petani muda di kawasan agrowisata Pantan Terong. Dengan memperbanyak volume praktek, diharpkan natinya para siswa tidak cangggung lagi ketika kemudian terjun ke dunia pertanian, baik sebagai penyuluh pertanian maupun pelaku agribisnis.
Sejak dibukanya lahan pertanian yang dikelola oleh Athaullah bersama komunitas ‘Enti Gaboxs’ di kawasan agrowisata tersebut, tempat ini memang tidak pernah sepi dikunjungi oleh berbagai kalangn. Mulai dari mahasiswa yang sedang melakukan praktek dan penelitian, para peneliti dari BPTP Aceh maupun dari Balitbang Kementerian Pertanian, para pejabat lingkup pertanian baik tingkat provinsi Aceh maupun pusat, para pelaku agribisnis sampai kelompok tani dari luar daerah, sering menjadikan lahan para pegiatn pertanian ini sebagai destinasi kunjungan study banding, praktek lapang maupun penelitian bahkan sampai ke transaksi bisnis pertanian.
Ini akan sangat berharga bagi para siswa SMK yang sedang ‘magang’ di BPP Bebesen ini, karena sambil menimba ilmu dan keterampilan dari para penyuluh pertanian senior, mereka juga akan dapat beriinteraksi langsung dengan berbagai kalangan yang sering mengunjungi lahan praktek mereka ini. Ada multi effect positif yang akan didapatkan oleh para siswa pakerin ini, selain mendapatkan pengetahuan dan skill, juga akan mendapatkan pengalaman mengelola agribisnis yang sangat bermanfaat untuk masa depan mereka. Itulah sebabnya mereka begitu bersemangat mendapat kesempatan praktek lapang di tempat ini.
Para penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Tengah yang kemudian membentuk komunitas ‘Enti Gaboxs’ ini memang bukan hanya berperan sebagai pembimbing bagi para petani semata, tapi juga sering diminta pihak lain untuk memberikan motivasi dalam menjalankan usaha tani dan agribisnis. Komunitas yang dimotori oleh Safrin Zailani, Sadarmi, Anugrah Fitradi, Junaidi, Ayuseara, Masna Manuruung, Safriga dan Andi inilah yang kemudian ‘all out’ membantu Athaullah dan jajaran BPP Bebesen dalam melakukan bimbingan kepada para siswa pakerin dari SMK Negeri 2 Takengon ini. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan yang diciptakan oleh komunitas inilah yang kemudian semakin membuat para siswa SMK ini betah berlama-lama melaksanakan tugas praktek dari sekolah mereka.

Fathan Muhammad Taufiq